Laman

Jumat, 21 November 2014

Cerpen: Sahabat Dekat Jadi Jauh



Entah mengapa, hidup ini rasanya susah bagiku. Satu persatu orang terdekatku mulai jauh. Tentunya ada penyebab yang dalam dugaanku sudah aku ketahui. Tapi jika ini adalah sekenario tuhan, semoga aku kuat menjalani. Semoga aku mampu menyelesaikan tugas ini demi prasangka baikku pada tuhan. Aku masih percaya kalau di luar diriku, ada yang mengendalikan. Dia tidak lain adalah tuhan yang maha esa.

Sewaktu masih  kuliah dulu, hikam, fahmi, dan wawan, merupakan sosok yang setia dengan aku. Ketiga temanku itu sering berjalan bersama ke mana-mana. Suka duka kami rasakan. Ketika mendapat rejeki, kami saling berbagi. Ketika mendapat cobaan, kami pun saling membantu. Tak ada jarak dan tak ada sekat sedikit pun. Kini, semua yang kami alami bersama sewaktu kuliah dulu, hanya kenangan manis, yang tak se-manis gula. Kenangan manis itu kini jadi pahit. 

Berawal dari kedatangan hikam pada malam hari ke kampus, entah mengapa hatiku begitu senang. Hikam adalah teman baikku yang sudah lulus lebih dulu. Dia kembali ke kota kelahirannya dan jadi pengajar di sekolah. Sesekali setiap hari libur, dia main ke kampus. Aku tak pernah benci dia kalau dating ke kampus. Hatiku selalu bahagia bertemu dia, walaupun sebentar.

Aku sudah tak tinggal di asrama kampus lagi. Aku sudah pindah di masjid menjadi takmir. Masjid jadi pilihan tempat tinggalku karena tidak usah bayar jika ingin menempatinya. Sebagai takmir, tiap hari kewajibanku adalah membersihkan masjid, seperti menyapu, mengepel, dan meramaikan masjid dengan kegiatan islami.

Hikam mengabari kalau dirinya akan ke kampus. Dari kabar SMS yang dikirim ke HP, aku membalas, ok bos….nanti nginap di masjidku. Soalnya aku sudah tidak tinggal di asrama kampus. Setelah aku balas, hikam tak membalas lagi.

Setelah aku mendapat kabar dari hikam, segera taman-teman takmir aku kabari, kalau nanti ada temanku yang mau nginep di masjid. Aku member tahu kabar agar teman takmir masjidku tidak kaget kalau ada tamu, yang barangkali jika tidak aku kasih tahu lebih dahulu akan sungguh merepotkan mereka. Sebagai orang baru di masjid, aku harus tahu dan menjaga perasaan sesame teman, walaupun aku tahu teman-temanku sangat tidak keberatan.

Aku menunggu cukup lama balasan tadi. Tapi, sampai 2 jam tak kunjung ada balasan SMS. Aku tak pernah berperasangka buruk terhadap teman satuku ini. Bagiku, dia orang baik. Walaupun SMS tidak dibalas, aku cukup santai-santai saja.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku SMS duluan. Kam, kamu sudah sampai di kampus belum? Kalau sudah, kamu nginap di tempatku saja……..
Beberapa menit kemudian, aku dapat balasan…….
Aku sudah di kampus, kamu ke sini aja……
Aku jawab, OK----

Akhirnya aku pergi ke kampus memenuhi permintaan hikam tadi. Seperti biasa, ketika ketemu sahabat lama, selalu aja canda tawa khas kami. Ternyata di kampus, hikam sudah ketemu fahmi dan wawan. Mereka sedang bermain game playstation. Mereka khusyuk menikmati permainan yang sudah lama pisah. Beberapa candaan di antara kami masih terlihat enak, khas, dan lucu. Saking asyiknya, aku minta hikam main ke tempatku, masjid. Namun, permintaanku ini tak pernah mendapat tanggapan. Dia asyik dengan permainan gamenya. Padahal, waktu sudah malam, sedangkan wawan dan fahmii sudah kembali ke kos. Kini tinggal aku dan hikam.

Berbagai permintaan dan bujukan agar hikam mau main ke tempatku sudah aku lakukan. Dengan nada ketus, dia menjawab yang menurutku sangat tidak enak jika di telan di hati. Aku coba untuk bersabar. Barangkali, jawaban kasarnya itu sebab kecapek’an dia sewaktu perjalan. Dan akhirnya, akupun mengalah, dan menemani dia tidur di asrama sampai pagi.

Aku masih berkeinginan mengajak dia main ke tempatku. Sebab selama dia main ke kampus, belum pernah mampir ke masjid sebagai tempat tinggalku.  

“kam, ayo mampir ke masjid, nanti tak kasih makan…., pintaku pada hikam.
“wah, aku malu ke masjid, soalnya itu tempat umum, banyak orang yang beribadah di sana. Enak disini, jawab hikam.
“sebentar saja, nanti kamu langsung pulang setelah dari masjid, balasku…
“kamu sendiri saja ke masjid, ogah aku ke sana. Aku pengen di asrama saja.

Setelah bujuk rayuku tak mempan menaklukkan hikam, akhirnya aku ke masjid sendiri. Soalnya, jika aku berlama-lama di asrama kampus, kewajibanku sebagai takmir akan terlantar. Padahal aku punya jadwal adzan, imam, dan sarasehan dengan pemuda setempat. Jika aku tak segera kembali, kemungkinan aku akan sangat malu. Selain malu, aku juga akan dimarahi oleh ketua takmir yang cukup galak.

Seakan harapanku bertepuk sebelah tangan. Padahal sewaktu hikam belum sampai di kampus, aku sudah minta ijin ke teman-teman takmir kalau nanti ada temanku yang mau datang. Dengan dia tidak mau mampir ke masjid itu, aku sungguh sangat kecewa. Padahal aku ingin agar dia tau kalau aku sekarang di masjid. Itu saja.

Sampai detik ini, entah ini prasangka burukku atau bagaimana, setelah kejadian itu, hikam sudah tak pernah main lagi ke kampus. Aku sering SMS dia, walau isi SMS ku hanya sebatas basa-basi. Namun, hanya balasan biasa. Tak seindah dulu. Hikam pun jarang sekali SMS, dan bahkan sama sekali tidak pernah. 

Barangkali keadaan ini karena kesalahankku. Aku memang kurang dalam berkomunikasi. Aku tak mampu menjaga pertemanan ini seperti dulu…….maafkan aku….kawan….aku masih tetap menganggap dirimu teman terbaikku…………………………